Masih ADA Tata Bahasa Media Massa yang Kurang Efektif

Masih ADA Tata Bahasa Media Massa yang Kurang Efektif

BANDUNG- Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat sampai saat ini masih banhak menemukan kesalahan penggunaaan tata bahasa di media massa. Bahkan, media online mendominasi kesalahan tersebut dibanding media cetak.

Peneliti Muda Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, Toni Heryadi mengatakan
selama ini banyak ditemukan ejaan, pilihan juga kalimatnya masih salah. Artinya dalam penyampaian informasi harus fokus ditata agar lebih baik lagi.

“Itu yang paling banyak kesalahannya,”tegasnya kepada wartawan usai kegiatan Penyuluhan Bahasa Indonesia Bagi Media Massa Cetak dan Online di Bandung, Rabu (27/11/2019)

Toni menyebutkan kesalahan tersebut lebih banyak ditemukan di media online. Ia menilai dibandingkan dengan media cetak lebih minim, karena lebih ketat dalan proses editing.

“Tapi kalau media online mungkin di situ publikasinya lebih longgar,”ungkapnya

Dia berharap media massa lebih teliti dan cermat dalam menuliskan sebuah kata. Sebab, informasi yang berasal dari wartawan sangat berpengaruh kepada pembaca.

“Jadi kalau wartawan memberitakan informasi yang salah begitu pun dengan pembacanya akan mendapatkan informasi yang salah,”paparnya

Adapun kegiatan Penyuluhan Bahasa Indonesia Bagi Media Massa Cetak dan Online dilaksanakan 26-27 November 2019 di Bandung. Kegiatan rutin ini dilakukan dengan melibatkan memberikan pemyuluhan bagi guru, badan publik dan media massa. Tujuannya agar bahasa itu lebih bermartabat di negaranya sendiri.

“Bagi guru dilaksanakan di 10 kota. Badan publik (4 kota/kabupaten) dan media massa (1 kota). Kita lebih fokus menata bahasanya di media massa,”imbuhnya

Toni menjelaskan materi yang disampaikan berbeda untuk wartawan fokus pada pewarta pemula dengan memberikan arahan bagaimana cara mempublikasikan sebuah berita di media online.

Terlebih sekarang ada kecenderuangan pemberitaan itu tidak efektif. Misalnya, dalam pemberian judul berita terlalu panjang bahkan bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda.

“Kalau kita menata langsung kepada media massa terlalu berat. Maka kita panggil wartawannya agar lebih mudah menatanya,”tandasnya (AK2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *