Redam konflik di Masyarakat dengan Dialog

Redam konflik di Masyarakat dengan Dialog
BANDUNG – Cara Kota Bandung meredam konflik sosial ternyata menarik perhatian Wali Kota Pariaman Genius Umar. Ia mengajak serta jajaran Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial Padang Pariaman untuk studi banding ke Kota Bandung.
Tim tersebut terdiri dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Padang Pariaman. Para pimpinan daerah hadir di Balai Kota Bandung dan diterima langsung oleh Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana, Rabu (17/7/2019).
Sebagai kota besar berpenghuni lebih dari 2,4 juta jiwa di malam hari dan sekitar 3,4 jiwa di siang hari, Kota Bandung rawan menghadapi konflik sosial. Padatnya penduduk dan tingginya kebutuhan hidup menjadi salah satu faktor pemicu.
Namun Genius menilai, Kota Bandung memiliki cara yang tersendiri dalam mengatasi konflik sosial di dalamnya, baik dari segi pengelolaan isu hingga penanganan konflik.
“Kami ingin belajar, dan kami ajak serta jajaran Forkompinda di wilayah kami untuk bersilaturahmi,” ucap Genius.
Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana pun menyambut dengan tangan terbuka. Ia mengamini bahwa setiap hari kotanya tak luput dari masalah sosial. Ada saja hal yang berpotensi memicu konflik.
“Tapi kami selalu memegang teguh satu hal, yaitu dialog. Pada prinsipnya, adanya demonstrasi atau konflik itu terjadi karena ada saluran komunikasi yang tersumbat,” ujar Yana.
Menurut Yana, dialog bisa menjadi jembatan pemerintah dan masyarakat untuk sama-sama menemukan solusi dari masalah yang ada. Dialog jugalah yang menjaga situasi di Bandung tetap kondusif.
“Potensi konflik salah satunya bisa jadi datang dari perbedaan agama. Di Kota Bandung, warganya multikultural, multietnis. Semua agama ada, karena kota kami dari dulu memang kota yang beragam,” imbuhnya.
“Pak Wali Kota rutin menggelar pertemuan dengan para pemuka agama setiap menjelang hari raya keagamaan. Dengan pemuka agama Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu juga. Mereka diundang ke Pendopo, rutin dialog, ngobrol,” jelas Yana.
Hal yang sama juga diterapkan dalam bidang yang lain. Hal tersebut membuat Kota Bandung menjadi kota yang kondusif dan nyaman ditinggali oleh warganya.
“Orang Bandung senang ngobrol, jadi semuanya diselesaikan dengan ngobrol,” katanya. AK1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *