ADA Tantangan Bagi Akuntan di Era Revolusi Industri 4.0

ADA Tantangan Bagi Akuntan di Era Revolusi Industri 4.0

BANDUNG-Dosen Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI)
Danny Buldansyah mengatakan di Era Revolusi Industri 4.0 mengharuskan kita untuk berinovasi dan berdaptasi untuk bisa bertahan. Dalam waktu yang relatif singkat Gojek dan Grab mampu mengalahkan nilai ekonomi yang dimiliki oleh Bluebird atau penyedia jasa armada taksi konvensional, padahal mereka tidak punya satupun kendaraan sebagai armadanya.

Senada dengan Adis, Danny juga menyebutkan penemuan bisnis model yang relatif baru mengharuskan setiap orang dari profesi apapun harus menjawabnya dengan perubahan paradigma dalam menyelesaikan masalah termasuk dalam bidang akuntansi.

Indonesia sebagai negara dengan perkembangan start-up posisi kedua di dunia, tentu saja hal ini menjadi kabar gembira bagi kita semua masyarakat Indonesia, karena hal ini menandakan kreatifitas dan minat pelajar, mahasiswa dan anak muda Indonesia di bidang bisnis digital.

“Facebook memiliki nilai valuasi yang tinggi dikarenakan digital traction-nya yang tinggi,”ujar Dany dalam keterangan resminya, Jumat (21/6/2019)
Meski demikian, rata-rata perusahaan digital memiliki masalah dalam menyusun laporan keuangan, dikarenakan adanya beberapa transaksi dan aset yang bingung dalam proses pencatatan laporan keuangannya.

Berdasarkan riset sekitar 64% kalangan start-up mengakui kesulitan dalam penyusunan laporan keuangan dan menganggap laporan keuangan sebagai isu yang krusial.

Aplikasi Revolusi Industri 4.0 dalam bidang start-up ditinjau dari sudut pandang akuntansi. Sedangkan, proses penyusunan laporan keuangan adalah depelovement cost yang dapat dikapitalisasi dan tidak harus di expand asal memenuhi persyaratan yang cukup ketat sebagaimana diatur dalam PSAK untuk aset tak berwujud.

Saat ini PSAK 19 membatasi pengakuan aset tak berwujud yang dibangun sendiri kecuali berhasil memenuhi syarat yang ketat. Selain dari itu proses ‘bakar uang’ yang dilakukan oleh perusahaan start-up untuk user acuitition dalam pencatatannya bisa dikapitalisasi dengan syarat adanya kepastian dan keyakinan bahwa user dari start-up itu akan menghasilkan revenue.

Senada dengan Angggota DSAK Ikatan Akuntan Indonesia yang juga dosen FEB UNPAD, Ersa Tri Wahyuni, Ph.D, CA, CPMA, CPSAK mengatakan
akuntan harus terus berusaha membuat dirinya relevan untuk masyarakat dan entitas bisnis. Selama akuntan mampu memberikan nilai dan berkontribusi kepada masyarakat, maka selamanya profesi ini akan terus ada.

“Fungsi utama seorang akuntan adalah dia harus mampu mengkomunikasikan keadaan ekonomi perusahaan kepada decision maker. Akuntan harus memahami bahwa tools yang dipakai dalam bekerja itu sudah beragam danup-to-date. Akuntan harus faham penggunanaan big data analytic dalam penyusunan laporan keuangan. Oleh sebab itu akuntan harus faham dan belajar penggunaan, pemanfaatan dan mengkomunikasikan hasil analisis big data keuangan”pungkasnya (AK2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *